balon ku ada lima

29 10 2009

sebuah lagu yang memberikan pesan moral , empati intelektual, and spiritual,





PAIKEM GEMBROT

3 09 2009

ok

Oleh : Drs T. Taslimuharom, MP

PAKEM adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Disamping metodologi pembelajaran dengan nama atau sebutan “PAKEM”, muncul pula nama yang dikeluarkan di daerah Jawa Tengah dengan sebutan “PAIKEM Gembrot” dengan kepanjangan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot. Disamping itu melalui program Workstation P4TK-BMTI Bandung tahun 2007, di Jayapura muncul pula sebutan “Pembelajaran MATOA” (diambil dari buah Matoa), kepanjangan Menyenangkan Atraktif Terukur Orang Aktif, yang artinya Pembelajaran yang menyenangkan, Guru dapat menyajikan dengan atraktif/menarik dengan hasil terukur sesuai yang diharapkan siswa(orang) belajar secara aktif . Active Learning, Proses belajar dapat dikatakan active learning dengan mengandung :

1. Komitmen (Keterlekatan pada tugas), Berarti, materi, metode dan strategi pembelajaran bermanfaat untuk siswa(meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant) dan bersifat pribadi (personal)

2. Tanggung jawab (Responsibility), Merupakan suatu proses belajar yang memberi wewenang pada siswa untuk krtitis, guru lebih banyak mendengar daripada bicara, menghormat ide-ide siswa, memberi pilihan dan memberi kesempatan pada siswa untuk memutuskan sendiri

3. Motivasi, Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, dengan lebih mengembangkan motivasi intrinsik siswa agar proses belajar yang ditekuninya muncul berdasarkan, minat dan inisiatif sendiri, bukan karena dorongan lingkungan atau orang lain. Motivasi belajar siswa akan meningkat karena ditunjang oleh pendekatan belajar yang dilakukan guru lebih dipusatkan kepada siswa (Student centred approach), guru tidak hanya menyuapi atau menuangkan dalam ember, tetapi menghidupkan api yang menerangi sekelilingnya, dan bersikap positif kepada siswa. Active learning bisa dibangun oleh seorang guru yang gembira,tekun dan setia pada tugasnya, bertanggung jawab, motivator yang bijak, berpikir positif, terbuka pada ide baru dan saran dari siswa atau orang tuanya/masyarakat, tiap hari energinya untuk siswa supaya belajar kreatif, selalu membimbing, seorang pendengar yang baik, memahami kebutuhan siswa secara individual, dan mengikuti perkembangan pengetahuan.

Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal yang artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru. Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan. Dirancang untuk mesimulasikan imajinasi. Kreatifitas adalah sebagai kemampuan (berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.

Ciri-ciri Kepribadian Kreatif Berdasarkan survei kepustakaan oleh Supriadi (1985) mengidentifikasi 24 ciri kepribadian kreatif yaitu:

(1) terbuka terhadap pengalaman baru,

(2) fleksibel dalam berfikir dan merespons;

(3) bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan;

(4)menghargai fantasi;

(5) tertarik kepada kegiatan-kegiatan kreatif;

(6) mempunyai pendapat sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain;

(7) mempunyai rasa ingin tahu yang besar;

(8) toleran terhadap perbedaan pendapat dan situasi yang tidak pasti;

(9) berani mengambil risiko yang diperhitungkan;

(10) percaya diri dan mandiri;

(11) memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada tugas;

(12) tekun dan tidak mudah bosan;

13) tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah;

(14) kaya akan inisiatif;

(15) peka terhadap situasi lingkungan;

(16) lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan dari pada masa lalu;

(17) memiliki citra diri dan stabilitas emosional yang baik;

(18) tertarik kepada hal-hal yang abstrak, kompleks, holistik dan mengandung teka-teki;

(19) memiliki gagasan yang orisinal;

(20) mempunyai minat yang luas;

(21) menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri;

(22) kritis terhadap pendapat orang lain;

(23) senang mengajukan pertanyaan yang baik; dan

(24) memiliki kesadaran etik-moral dan estetik yang tinggi.





How to Make Great Teachers

23 08 2009

By Claudia Wallisnz2

The Leaky Bucket

There’s no magic formula for what makes a good teacher, but there is general agreement on some of the prerequisites. One is an unshakable belief in children’s capacity to learn. “Anyone without this has no business in the classroom,” says Margaret Gayle, an expert on gifted education at Duke University, who has trained thousands of teachers in North Carolina.

Another requirement, especially in the upper grades, is a deep knowledge of one’s subject. According to research on teacher efficacy by statistician William Sanders, the higher the grade, the more closely student achievement correlates to a teacher’s expertise in her field. Nationally, that’s a problem. Nearly 30% of middle- and high school classes in math, English, science and social studies are taught by teachers who didn’t major in a subject closely related to the one they are teaching, according to Richard Ingersoll, professor of education and society at the University of Pennsylvania. In the physical sciences, the figure is 68%. In high-achieving countries like Japan and South Korea, he says, “you have far less of this misassignment going on.”

Other essential skills require on-the-job practice. It takes at least two years to master the basics of classroom management and six to seven years to become a fully proficient teacher. Unfortunately, a large percentage of public-school teachers give up before they get there. Between a quarter and a third of new teachers quit within their first three years on the job, and as many as 50% leave poor, urban schools within five years. Hiring new teachers is “like filling a bucket with a huge hole in the bottom,” says Thomas Carroll, president of the National Commission on Teaching and America’s Future, a Washington-based nonprofit.

Why do teachers bail? One of the biggest reasons is pay. U.S. public-school teachers earn an average annual salary of less than $48,000, and they start off at an average of about $32,000. That’s what Karie Gladis, 29, earned as a new teacher in Miami. She scrimped for 31â�„2 years and then left for a job in educational publishing. “It was stressful living from paycheck to paycheck,” she says. “If my car broke down or if I needed dental work, there was just no wiggle room.”

But money isn’t the only reason public-school teachers quit. Ben Van Dyk, 25, left a job teaching in a high-poverty Philadelphia school after just one year to take a position at a Catholic school where his earning prospects are lower but where he has more support from mentors, more control over how he teaches and fewer problems with student discipline. Novice teachers are much more likely to call it quits if they work in schools where they feel they have little input or support, says Ingersoll. And there’s evidence that the best and brightest are the first to leave. Teachers with degrees from highly selective college are more likely to leave than those from less prestigious schools. In poor districts, attrition rates are so high, says Carroll, that “we wind up taking anybody just to have an adult in the classroom.”
— With reporting by Rita Healy/Denver, Hilary Hylton/Houston and Kathie





Extra kurikuler

21 12 2008

2945_1079950877323_1182826855_30265228_4624812_n

A. STRUKTUR KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

1. Pengertian Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah.

2. Visi dan Misi

a. Visi

Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

b. Misi

1) Menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka.

2) Menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.

3. Fungsi Kegiatan Ekstra Kurikuler

a. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai
dengan potensi, bakat dan minat mereka.

b. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial
peserta didik.

c. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan
menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses
perkembangan.

d. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan kesiapan karir peserta didik.

4. Prinsip Kegiatan Ekstra Kurikuler
a. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai
dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
b. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai
dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
c. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang
menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.
d. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam
suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik.
e. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang
membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik
dan berhasil.
f. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang
dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.

5. Jenis kegiatan Ekstra Kurikuler
a. Krida, meliputi Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa
(LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera
Pusaka (PASKIBRAKA).

b. Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan
penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian.

c. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan
bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater,
keagamaan.

d. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi
antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM,
keagamaan, seni budaya.

6. Format Kegiatan

a. Individual, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti
peserta didik secara perorangan.

b. Kelompok, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti oleh
kelompok-kelompok peserta didik.

c. Klasikal, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti
peserta didik dalam satu kelas.

d. Gabungan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti
peserta didik antarkelas/antarsekolah/madraasah.

e. Lapangan, yaitu format kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti
seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar
kelas atau kegiatan lapangan.

B. PERENCANAAN KEGIATAN

Perencanaan kegiatan ekstra kurikuler mengacu pada jenis-jenis kegiatan yang memuat unsur-unsur:

1. Sasaran kegiatan

2. Substansi kegiatan

3. Pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, serta keorganisasiannya

4. Waktu dan tempat

5. Sarana

C. PELAKSANAAN KEGIATAN

1. Kegiatan ekstra kurikuler yang bersifat rutin, spontan dan
keteladanan dilaksanakan secara langsung oleh guru, konselor dan
tenaga kependidikan di sekolah/madrasah.

2. Kegiatan ekstra kurikuler yang terprogram dilaksanakan sesuai
dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan
pelaksana sebagaimana telah direncanakan. (Lampiran 11)

D. PENILAIAN KEGIATAN

Hasil dan proses kegiatan ekstra kurikuler dinilai secara kualitatif dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan.

E. PELAKSANA KEGIATAN

Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler adalah pendidik dan atau tenaga kependidikan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan pada substansi kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.

F. PENGAWASAN KEGIATAN

1. Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah dipantau,
dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan.

2. Pengawasan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan secara:

a. interen, oleh kepala sekolah/madrasah.
b. eksteren, oleh pihak yang secara struktural/fungsional
memiliki kewenangan membina kegiatan ekstra kurikuler
yang dimaksud.

3. Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan
ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu perencanaan dan
pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.





Profil kepemimpinan Kepala Sekolah

21 12 2008

nz3

Apa yang harus dimiliki oleh kepala sekolah di era globalisasi sekarang ini?
Untuk menghadapi tantangan dan permasalahan pendidikan nasional yang amat berat saat ini, mau tidak mau pendidikan harus dipegang oleh para manajer dan pemimpin yang sanggup meng hadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang ada, baik pada level makro maupun mikro di sekolah.

Merujuk pada pemikiran Rodney Overton (2002) tentang profil manajer dan pemimpin yang dibu tuhkan saat ini, berikut ini diuraikan secara singkat tentang 20 profil manajer dan pemimpin pen didikan yang yang dibutuhkan saat ini.
1. Mampu menginspirasi melalui antusiasme yang menular.
Pendidikan harus dikelola secara sungguh-sungguh, oleh karena itu para manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menunjukkan semangat dan kesungguhan di dalam melaksanakan sege nap tugas dan pekerjaanya. Semangat dan kesungguhan dalam bekerja ini kemudian ditularkan kepada semua orang dalam organisasi, sehingga mereka pun dapat bekerja dengan penuh semangat dan besungguh-sungguh.

2. Memiliki standar etika dan integritas yang tinggi.
Penguasaan standar etika dan integritas yang tinggi oleh para manajer atau pemimpin pendidikan tidak hanya terkait dengan kepentingan kepemimpinan dalam organisasi, namun juga tidak lepas dari hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah usaha untuk menciptakan manusia-manusia yang memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi. Oleh karena itu, pendidikan sudah seha rusnya dipegang oleh para manajer (pemimpin) yang memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi, sehingga pada gilirannya semua orang dalam organisasi dapat memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi.

3. Memiliki tingkat energi yang tinggi.
Mengurusi pendidikan sebenarnya bukanlah mengurusi hal-hal yang sifatnya sederhana, karena didalamnya terkandung usaha untuk mempersiapkan suatu generasi yang akan mengambil tong kat estafet kelangsungan suatu bangsa.di masa yang akan datang. Kegagalan pendidikan adalah kegagalan kelanjutan suatu generasi. Untuk mengurusi pendidikan dibutuhkan energi dan motiva si yang tinggi dari para manajer dan pemimpin pendidikan. Pendidikan membutuhkan manajer (pemimpin) yang memiliki ketabahan, daya tahan (endurance) dan pengorbanan yang tinggi dalam mengelola pendidikan.

4. Memiliki keberanian dan komitmen
Saat ini pendidikan dihadapkan pada lingkungan yang selalu berubah-ubah, yang menuntut kebe ranian dari para manajer (pemimpin) pendidikan untuk melakukan perubahan-perubahan dan bisa beradaptasi dengan tuntutan perubahan yang ada. Selain itu, pendidikan membutuhkan manajer (pemimpin) yang memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya. Kehadirannya sebagai manajer (pemimpin) benar-benar dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan organisasi, yang didasari rasa kecintaannya terhadap pendidikan dengan memiliki sikap antisipatif dan adaptif.

Bentuk sikap antisipatif dan adaptif ini dapat dilakukan melalui upaya untuk melaksanakan perbaikan secara terus-menerus dalam proses manajemen. Jika kita mengacu pada konsep Total Quality Manajemen, maka upaya perbaikan secara terus menerus dalam proses manajemen di sekolah menjadi kebutuhan organisasi yang sangat mendasar. Dalam hal ini, Gostch dan Davis (Sudarwan Danim 2002:102) mengemukakan bahwa salah satu kaidah dalam mengaplikasikan TQM adalah adanya perbaikan kinerja sistem secara berkelanjutan. Untuk itu, kegiatan evaluasi dan riset menjadi amat penting adanya. Dengan melalui kegiatan evaluasi dan riset ini akan dipe roleh data yang akurat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kepu tusan yang berkenaan dengan usaha inovatif organisasi dan penyesuaiaian-penyesuaian terha dap berbagai perubahan.

Berbicara tentang sikap antisipatif ini, kita akan diingatkan pula dengan konsep budaya organi sasi yang adaptif yang dikemukakan oleh Ralph Klinmann bahwa budaya adaptif merupakan sebu ah budaya dengan pendekatan yang bersifat siap menanggung resiko, percaya, dan proaktif ter hadap kehidupan individu. Para anggota secara aktif mendukung usaha satu sama lain untuk mengidentifikasi semua masalah dan mengimplementasikan pemecahan yang dapat berfungsi. Ada suatu rasa percaya (confidence) yang dimiliki bersama. Para anggotanya percaya, tanpa rasa bimbang bahwa mereka dapat menata olah secara efektif masalah baru dan peluang apa saja yang akan mereka temui. Kegairahan yang menyebar luas, satu semangat untuk melakukan apa saja yang dia hadapi untuk mencapai keberhasilan organisasi. Para anggota ini reseptif terhadap perubahan dan inovasi.

Rosabeth Kanter mengemukakan bahwa jenis budaya ini menghargai dan mendorong kewiraswas taan, yang dapat membantu sebuah organisasi beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, dengan memungkinkannya mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang baru. (John P. Kotter dan James L. Heskett: 17- 49). Dengan demikian, sikap antisipatif dan adaptif terhadap perubahan seyogyanya menjadi bagian dari budaya organisasi di sekolah, yang ditunjukkan dengan upaya melakukan berbagai perbaikan dalam proses manajemen.

5. Memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dan bersikap nonkonvensional.
Saat ini permasalahan dan tantangan yang dihadapi pendidikan sangat kompleks, sehingga menuntut cara-cara penyelesaian yang tidak mungkin hanya dilakukan melalui cara-cara konven sional. Manajer (pemimpin) pendidikan yang memiliki kreativitas tinggi akan mendorong terjadinya berbagai inovasi dalam praktik-praktik pendidikan, baik pada tataran manjerialnya itu sendiri maupun inovasi dalam praktik pembelajaran siswa.

6. Berorientasi pada tujuan, namun realistis
Tujuan pendidikan berbeda dengan tujuan-tujuan dalam bidang-bidang lainnya. Oleh karena itu, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memahami tujuan-tujuan pendidikan. Di bawah kepemimpinnanya, segenap usaha organisasi harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan dengan menjalankan fungsi-fungsi manajemen beserta seluruh substansinya. Pencapaian tujuan pendidikan disusun secara realistis, dengan ekspektasi yang terjangkau oleh organisasi, tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu tinggi.

7. Memiliki kemampuan organisasi yang tinggi
Kegiatan pendidikan adalah kegiatan yang melibatkan banyak komponen, yang di dalamnya membutuhkan upaya pengorganisasian secara tepat dan memadai. Bagaimana mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada, bagaimana mengoptimalkan kurikulum dan pembelajaran, bagai mana mengoptimalkan sumber dana, dan bagaimana mengoptimalkan lingkungan merupakan hal-hal penting dalam pendidikan yang harus diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga menuntut kemampuan khusus dari para manajer (pemimpin) pendidikan dalam mengorganisasikannya.

8. Mampu menyusun prioritas
Begitu banyaknya kegiatan yang harus dilakukan dalam pendidikan sehingga menuntut para manajer (pemimpin) pendidikan untuk dapat memilah dan memilih mana yang penting dan harus segera dilaksanakan dan mana yang bisa ditunda atau mungkin diabaikan. Kemampuan manajer (pemimpin) pendidikan dalam menyusun prioritas akan terkait dengan efektivitas dan efisiensi pendidikan.

9. Mendorong kerja sama tim dan tidak mementingkan diri sendiri, upaya yang terorganisasi.
Kegiatan dan masalah pendidikan yang sangat kompleks tidak mungkin diselesaikan secara soliter dan parsial. Manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat bekerjasama dengan berbagai pihak, baik yang berada dalam lingkungan internal maupun eksternal. Demikian pula, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mendorong para bawahannya agar dapat bekerjasama dengan membentuk team work yang kompak dan cerdas, sekaligus dapat meletakkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.

Penerapan konsep Team Work dalam pendidikan, khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. Snyder and Anderson, menyebutkan bahwa team work di sekolah, dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu kepala sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di sekolah. Atau mungkin muncul dalam bentuk team khusus, yang mengerjakan tugas-tugas khusus pula, seperti: team pengembang kurikulum, team bimbingan dan konseling dan sebagainya, yang intinya team-team tersebut dibentuk untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan pendidikan di sekolah.

Selain itu penerapan konsep team work dalam pendidikan dapat digunakan kepentingkan pening katan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, misalnya melalui kegiatan Penelitian Tindak an Kelas, lesson study dan melakukan supervisi akademik dengan cara melibatkan guru-guru yang senior dan profesional yang ada di sekolah tersebut. Konsep team work telah diadopsi pula sebagai bagian dari strategi pembelajaran, yang dikenal dengan sebutan Collaborative Team work Learning, yaitu suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk untuk mengem bangkan kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif dalam Team.

Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work di sekolah diantaranya : (1) dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan, maka diharap kan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap kepu tusan yang diambil, (2) setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus, (3) informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebu ah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam, (4) memungkinkan terjadinya pe ningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi, dan (5) adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok.

10. Memiliki kepercayaan diri dan memiliki minat tinggi akan pengetahuan.
Masalah dan tantangan pendidikan yang tidak sederhana, menuntut para manajer (pemimpin) pendidikan dapat memiliki keyakinan diri yang kuat. Dalam arti, dia meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Dia juga memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, sosial, moral maupun intelektual. Keyakinan diri yang kuat bukan berarti dia lantas menjadi seorang yang “over confidence”, mengarah pada sikap arogan dan menganggap sepele orang lain.. Di samping itu, sudah sejak lama pendidikan dipandang sebagai kegiatan intelektual. Oleh karena itu, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menunjukkan intelektualitas yang tinggi, dengan memiliki minat yang tinggi akan pengetahuan, baik pengetahuan tentang manajerial, pengetahuan tentang perkembangan pendidikan bahkan pengetahuan umum lainnya.

11. Sesuai dan waspada secara mental maupun fisik.
Tugas dan pekerjaan manajerial pendidikan yang kompleks membutuhkan kesiapan dan ketang guhan secara mental maupun fisik dari para manajer pendidikan. Beban pekerjaan yang demikian berat dan diluar kapasitas yang dimilikinya dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik. Agar dapat menjalankan roda organisasi dengan baik, seseorang manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menjaga dan memelihara kesehatan fisik dan mentalnya secara prima. Selain itu, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat memperhatikan kesehatan mental dan fisik dari seluruh anggota dalam organisasinya.

12. Bersikap adil dan menghargai orang lain.
Dalam organisasi pendidikan melibatkan banyak orang yang beragam karakteristiknya, dalam kepribadian, keyakinan, cara pandang, pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan sebagainya. Kesemuanya itu harus dapat diperlakukan dan ditempatkan secara proporsional oleh manajer (pemimpin). Manajer (pemimpin) pendidikan harus memandang dan menjadikan keragaman karak teristik ini sebagai sebuah kekuatan dalam organisasi, bukan sebaliknya.

3. Menghargai kreativitas
Untuk meningkatkan mutu pendidikan dibutuhkan sentuhan kreativitas dari semua orang yang terlibat di dalamnya. Tidak hanya menajer (pemimpin) yang dituntut untuk berfikir kreatif, tetapi semua orang dalam organisasi harus ditumbuhkan kreativitasnya. Pemikiran kreatif biasanya berbeda dengan cara-cara berfikir pada umumnya. Dalam hal ini, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mengakomodasi pemikiran-pemikiran kreatif dari setiap orang dalam organisasi, yang mungkin saja pemikiran-pemikiran itu berbeda dengan sudut pandang yang dimilikinya.

14. Menikmati pengambilan resiko.
Tatkala keputusan untuk berubah dan berinovasi telah diambil dan segala resiko telah diper hitungkan secara cermat. Namun dalam implementasinya, tidak mustahil muncul hal-hal yang berasa di luar dugaan sebelumnya, maka dalam hal ini, manajer (pemimpin) pendidikan harus tetap menunjukkan ketenangan, keyakinan dan berusaha mengendalikan resiko-resiko yang muncul. Jika memang harus berhadapan dengan sebuah kegagalan, manajer (pemimpin) pendi dikan harus tetap dapat menunjukkan tanggung jawabnya, tanpa harus mencari kambing hitam dari kegagalan tersebut. Selanjutnya, belajarlah dari pengalaman kegagalan tersebut untuk perbaikan pada masa-masa yang akan datang.

15. Menyusun pertumbuhan jangka panjang
Kegiatan pendidikan bukanlah kegiatan sesaat, tetapi memiliki dimensi waktu yang jauh ke depan. Seorang manajer (pemimpin) pendidikan memang dituntut untuk membuktikan hasil-hasil kerja yang telah dicapai pada masa kepemimpinannya, tetapi juga harus dapat memberikan lan dasan yang kokoh bagi perkembangan organisasi, jauh ke depan setelah dia menyelesaikan masa jabatannya. Kecenderungan untuk melakukan praktik “politik bumi hangus” harus dihindari. Yang dimaksud dengan “politik bumi hangus” disini adalah praktik kotor yang dilakukan manajer (pemimpin) pendidikan pada saat menjelang akhir jabatannya, misalnya dengan cara mengha biskan anggaran di tengah jalan, atau merubah struktur organisasi yang sengaja dapat menimbulkan chaos dalam organisasi, sehingga mewariskan masalah-masalah baru bagi manajer (pemimpin) yang menggantikannya.

16. Terbuka terhadap tantangan dan pertanyaan.
Menjadi manajer (pemimpin) pendidikan berarti dia akan dihadapkan pada sejumlah tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi, merentang dari yang sifatnya ringan hingga sangat berat sekali. Semua itu bukan untuk dihindari atau ditunda-tunda tetapi untuk diselesaikan secara tuntas.

17. Tidak takut untuk menantang dan mempertanyakan.
Selain harus mampu menyelesaikan masalah-masalah yang sudah ada (current problems) secara tuntas, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memiliki keberanian untuk memunculkan tantangan dan permasalahan baru, yang mencerminkan inovasi dalam organisasi. Dengan demi kian, menjadi manajer (pemimpin) pendidikan tidak hanya sekedar melaksanakan rutinitas dan standar pekerjaan baku, tetapi memunculkan pula sesuatu yang inovatif untuk kemajuan organisasi.

18. Mendorong pemahaman yang mendalam untuk banyak orang.
Kegiatan pendidikan menuntut setiap orang dalam organisasi dapat memahami tujuan, isi dan strategi yang hendak dikembangkan dalam organisasi. Manajer (pemimpin) pendidikan berke wajiban memastikan bahwa setiap orang dalam organisasi dapat memahaminya secara jelas, sehingga setiap orang dapat memamahi peran, tanggung jawab dan kontribusinya masing-masing dalam organisasi. Selain itu, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mengembangkan setiap orang dalam organisasi untuk melakukan perbuatan belajar sehingga organisasi pendidikan benar-benar menjadi sebuah learning organization.

19. Terbuka terhadap ide-ide dan pandangan baru.
Pandangan yang keliru jika pendidikan dipandang sebagai sebuah kegiatan monoton dan rutinitas belaka. Pendidikan harus banyak melahirkan berbagai inovasi yang tidak hanya dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan itu sendiri tetapi juga kepentingan di luar pendidikan. Untuk dapat mela hirkan inovasi, manajer (pemimpin) pendidikan harus terbuka dengan ide-ide dan pandangan ba ru, baik yang datang dari internal maupun eksternal, terutama ide dan pandangan yang bersum ber dari para pengguna jasa (customer) pendidikan.

20. Mengakui kesalahan dan beradaptasi untuk berubah.
Asumsi yang mendasarinya adalah manajer (pemimpin) pendidikan adalah manusia, yang tidak luput dari kesalahan. Jika melakukan suatu kesalahan, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memiliki keberanian untuk mengakui kesalahannya tanpa harus mengorbankan pihak lain atau mencari kambing hitam. Lakukan evaluasi dan perbaikilah kesalahan pada masa-masa yang akan datang. Jika memang kesalahan yang dilakukannya sangat fatal, baik secara moral, sosial, maupun yuridis atau justru dia terlalu sering melakukan kesalahan mungkin yang terbaik adalah adanya kesadaran diri bahwa sesungguhnya dia tidak cocok dengan tugas dan pekerjaan yang diembannnya, dan itulah pilihan yang terbaik bagi dirinya dan organisasi.

Dengan memiliki kedua puluh sikap kepemimpinan yang telah diuraikan di atas maka kepala seko lah diharapkan mampu memimpin partner kerjanya ke arah yang lebih baik dan pada akhirnya tentunya diharapkan mutu pendidikan di negeri tercinta ini semakin lama akan semakin membaik.

Daftar referensi:
Akhmad Sudrajat. (2008) Manajemen Sekolah dalam Upaya Mengantisipasi Perubahan Online :
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/
Lori Jo Oswald. (1996) Work Teams in Schools. ERIC Digest 103 Online :
http://www.eric.ed.gov/ERICWebPortal/Home
M. Asrori. Collaborative Teamwork Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan
Kemampuan Mahasiswa Bekerja secara Kolaboratif dalam Tim.
Sandra A. Howard (1999) Guiding Collaborative Teamwork in The Classroom. Online :
http://www.uncwil.edu/cte/et/articles/howard/
Yadi Haryadi (tt). Team Work. (Bahan Presentasi Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan
Komite Sekolah)





MASYARAKAT MINANGKABAU

10 10 2008

nz4

Disampaikan pada “Sipasan ‘08”

Silaturrahmi Perantau Agam Se-Nusantara 2008

di Maninjau, 7-9 Oktober 2008,

I

P

ERISTIWA PRRI hanyalah sebuah pemicu (casus belli) terjadinya rentetan perubahan besar dalam masyarakat Minangkabau kontemporer. Sebelumnya proses pengeroposan dari dalam maupun serangan dan ancaman dari luar secara bertubi-tubi pun telah terjadi. Masyarakat tradisional di manapun dihajar oleh badai perubahan karena tuntutan zaman. Masyarakat-masyarak at tradisional harus berubah, dari lambat menjadi cepat, dan cepat sekali. Kalau tidak masyarakat itu akan tergilas oleh roda sejarah dan mati. Betapa banyak sudah puing-puing kuburan dari masyarakat-masyarak at yang telah ditelan oleh sejarah karena menentang perubahan dan tidak bisa bertahan.

Sejarah itu punya hukum sendiri. Hukumnya adalah perubahan. Dan kaedah sejarah ini dinyatakan secara gamblang sekali oleh Sang Pencipta dan Pengatur sejarah itu sendiri: “Wa tilkal ayyāmu nudāwiluhā bainan nās.” Dan hari-hari itu Kami peredarkan di antara manusia-manusia (Āli ‘Imrān 140).

Tak terkecuali, masyarakat Minang harus berubah, untuk tidak digilas oleh roda sejarah itu. Perubahan yang diharapkan tentu saja yang bisa menjawab tuntutan dan tantangan zaman, dengan fondasi yang kuat dan diperkuat. Misalnya dari masyarakat yang statis-tradisional- konservatif berorientasi masa lalu, seperti sekarang ini, ke yang dinamis-moderen, melihat ke depan, yang kita harapkan. Dan dari yang rural- agraris-teknologi sederhana, yang sekarang kita miliki, ke yang urban-industrial- teknologi maju, global, yang kita tuju.

Sementara fondasinya tetap utuh, dan harus tetap utuh. Orang Minang, seperti Melayu lainnya, memilih filosofi hidup ABS-SBK (Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah) yang sifatnya sintetis-integral- komprehensif, tidak sinkretis gado-gado campur-sari. Implikasinya, hubungan antara adat dan syarak tidaklah horizontal, tetapi vertikal, dengan menempatkan syarak di atas adat, di mana syarak mengata, adat memakai. Syarak berbuhul mati, adat berbuhul sintak. Dengan demikian adat tidak jalan sendiri, tetapi selalu berorientasi kepada dan serasi dengan syarak.

Masyarakat Minang selama ini, secara sosiologis, bagaimanapun, selalu bersifat mendua, cenderung bahkan hipokrit. Iyokan nan di urang, lalukan nan di awak. Tidak pernah mengatakan, nan iyo, iyo, nan indak, indak. Tidak pernah tegas, dan bertegas-tegas, sehingga sama yang di dalam dengan yang di luar. Karenanya satu kata dengan perbuatan. Namun dalam praktek jarang terjadi.

Masyarakat Minang masa kini cenderung mendahulukan taktik dan strategi, tetapi dengan sering menggadaikan atau menutupi prinsip. Orang yang tegar dengan prinsip dianggap kaku, koppig, tidak pandai main. Maunya, walau harimau nan di dalam, kambing jua yang keluar. Dengan mendahulukan taktik dan strategi ini, sekali selip dan tergelincir, lalu terjelapak, dan tidak bangkit lagi. Karena belangnya ketahuan. Inilah yang membedakan generasi kita sekarang ini dengan generasi pendahulu kita, yang suka berterus terang, dan jelas ke mana mereka mau pergi.

Masa-masa pasca PRRI yang telah berjalan tidak kurang dari setengah abad (1958-2008), atau dua generasi sudah berlalu, adalah masa-masa diaspora bergalau tak menentu bagi masyarakat Minang. Mereka bagaikan ummat Nabi Musa yang ditinggalkan berkeliaran di gurun pasir Sinai tanpa tentu arah dan tanpa pemimpin.

Sikap mendua yang diperlihatkan oleh masyarakat Minang selama ini adalah terhadap adat dan agamanya sendiri. Walau sejak dari Bukit Marapalam di awal abad ke 19 sudah dilafalkan ABS-SBK itu, namun antara praktik dan prinsip tidak sejalan. Yang didahulukan selalu adalah taktik, sementara yang dimolorkan untuk disesuaikan selalu adalah prinsip.

Keharusan untuk cari selamat ini, secara sosio-psikologis adalah juga sifat bawaan dari sukubangsa yang merasa diri minder sebagai minoritas berhadapan dengan sukubangsa lawan yang dianggap mayoritas dan berkuasa. Orang Minang, katanya, harus survive, karena berhadapan dengan raksasa yang jadi lawan ideologi dan filosofi cara berfikirnya. Sebuah pengulangan sejarah dari legenda adu kerbau pun terjadi. Namun sekarang yang menang bukan anak kerbau karena kelicikannya, tetapi kerbau jantan yang berbadan besar dan bertanduk runcing, seperti yang diperlihatkan dengan penumpasan terhadap PRRI itu. Semua yang berbeda disapu habis. Yang ditonjolkan adalah keseragaman, dan keserasian dalam keseragaman, dengan pola patron-klien menurut acuan yang ditentukan sendiri, dan dalam kerangka budaya paternalisme, feodalisme dan etatisme, yang sempat diperlakukan oleh regim-regim otoriter sebelumnya secara bernegara dan berbangsa di bumi tanah air ini.

Bukan keserasian dalam keragaman yang menjadi patokan formal kita dalam bernegara dan berbangsa selama ini. Bhinneka Tunggal Ika hanyalah lambang kesatuan untuk ditonjolkan sebagai perisai tetapi bukan untuk dipraktekkan. Begitu juga dengan Pancasila, yang sila pertamanya adalah Ketuhanan YME, tetapi yang tri-esa, yang poli-esa, atau yang tak tahu esa-tidaknya pun juga diakui dan dianggap sama benarnya (Jawanya: Sadoyo agami sami kemawon). Pada hal yang benar-benar taat asas dengan Ketuhanan Yang Maha Esa hanyalah agama yang satu itu, yang jadi agama panutan satu-satunya oleh orang Minang dan orang Melayu umumnya. Yaitu Islam.

Begitu pula dengan sila-sila yang lainnya, yang bisa dipelintir ke sana ke mari dengan sistem multi-tafsir, sebagai akibat dari tiadanya, atau tidak boleh adanya, tafsir yang autentik terhadap Pancasila yang menjadi dasar negara itu. Tidak adanya kaedah dan parameter untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, maka kata-kata keramat yang tertuang ke dalam sila-sila yang lainnya itupun tinggal jadi azimat tanpa diketahui secara jelas apa arti dan tolok ukur masing-masingnya. Sebutlah, “kedaulatan rakyat, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” dsb. Orang Minang pun telah ikut-ikut pula latah masuk ke dalam pusaran kata yang tidak jelas ujung-pangkal arti dan tolok-ukurnya itu.

Pada hal, semula, orang Minang telah dibekali dengan pusaka budaya yang menempatkan Kitabullah sebagai acuan pokok dan utama dalam berpikir dan bertindak. Tidak ada yang boleh bertentangan dan keluar dari itu. Adatnya bukan adat yang liar, yang multi tafsir, yang bisa dibawa ke sana ke mari, yang sinkretik, tetapi adat yang bersendikan syarak, dan syarak bersendi Kitabullah. Adat yang dipakai itu adalah adat yang kawi, yang islami, sementara yang jahili dibuang, dan dibuang jauh. Orang Minang tidak boleh berdua hati dan segan-segan membuang jauh adat yang jahili, primordial-animisti k maupun pluralistik- sekuler-nisbi- kontemporer, yang jelas-jelas tidak serasi dengan syarak, khususnya yang merusak keimanan dan ketauhidan.

Ketidak tegaran menunjukkan jati diri yang sesungguhnya telah membawa hanyut masyarakat Minang jauh ke hilir. Sampai hari ini belum kelihatan akan terjadi gerakan kesadaran kembali dalam rangka menemukan jati diri itu. Yang kelihatan baru igauan, terasa ada terkatakan tidak. Pertemuan silaturrahmi kita sekarang inipun baru berupa igauan tanpa diketahui secara jelas kemana kita akan menuju. Oleh karena itu, marilah pada kesempatan yang baik ini kita perjelas apa yang kita mau dan ke mana kita mau menuju. Dan kita bicara tentang masa depan kita, apa yang mau kita kerjakan, sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Selama ini kita baru bicara sebagai obyek, sebagai bagian dari keseluruhan, tetapi tidak sebagai subyek, dan subyek yang ikut menentukan, bukan ditentukan.

II

Masyarakat Minangkabau di kampung maupun di rantau sampai sekarang masih dalam keadaan diaspora, dalam kebingungan dan kegalauan, bahkan kehilangan arah. Serta ketiadaan pemimpin yang muncul. Masyarakat Minang sekarang ini benar-benar ketiadaan pemimpin, setelah yang lama, satu per satu, pergi untuk selamanya dan tidak berganti. Yang ada hanyalah pejabat dan penguasa, di samping anggota yang terhormat, yang tidak memikirkan rakyat tetapi hanya memikirkan diri. Sementara di perusahaan, swasta maupun negara, yang ada hanyalah bos dan bawahan, majikan dan buruh, yang semua urusan ditentukan dan didekte secara sepihak oleh bos, dari atas. Tidak heran kalau korupsi dan penyalah-gunaan kekuasaan merajalela, dari pusat sampai ke daerah. Tidak terkecualinya, daerah ini sendiri. Sehingga Indonesia pun dicap sebagai negara termasuk terkorup di dunia, dengan disiplin kerja yang rendah, dan dengan indeks produktivitas dan capaian prestasi yang rendah.

Pada hal dua generasi telah berlalu sejak PRRI itu. Ke depan, oleh karena itu, perlu ada ketegasan sikap, mau ke mana kita sesungguhnya. Quo Vadis? Aina mafarr?

Jawabnya mestinya sudah harus jelas. Hemat saya, secara global, kita menuju dalam mencari keridhaan-Nya. Di dunia ini, untuk menjadi bekal ke akhirat nanti. Untuk itu syariat-Nya harus ditegakkan. Dan ABS-SBK tidak hanya sekadar slogan, dan slogan kosong, tetapi benar-benar dilaksanakan, dan diimplementasikan. Dalam berbagai segi kehidupan. Dalam ekonomi, politik, hukum, sosial-budaya, pendidikan, sampai kesenian dan olah raga sekalipun. Secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dalam bermasyarakat dan bernegara. Secara terprogram dan bersasaran, sehingga tahu, dan tahu persis, ke mana kita akan melangkah, dalam waktu yang berjangka-jangka, sepuluh, dua puluh, sampai ke ujung abad ke 21 Miladiyah atau abad ke 15 Hijriyah ini, dst.

Oleh karena Allah telah menyediakan segala sesuatu yang ada di bumi dan langit ini untuk kita manusia bersama, maka kewajiban kita adalah untuk memanfaatkannya secara optimal dan memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Dalam rangka memanfaatkan pemberian Allah yang tak terpermanai inilah kita perlu mengejar segala ketinggalan kita. Kita harus banyak belajar kepada bangsa-bangsa yang sudah lebih duluan maju, di mana letak kekuatan dan kelemahan mereka. Yang baik kita ambil dan pakai, yang buruk kita buang. Ahli-ahli sains pembangunan (development science) di era 60-an dan 70-an dulu sudah juga mengindentifikasika n sejumlah syarat-syarat untuk maju itu, seperti yang sekarang juga diikuti oleh raksasa-raksasa baru dunia yang sedang muncul, yaitu Cina dan India, dan yang sebelumnya, Jepang dan Korea, dan sebelumnya lagi, negara-negara di Eropah, Amerika dan Australia. Mereka tidak akan mungkin maju tanpa memiliki prasyarat yang sifatnya global dan universal itu.

Syarat-syarat dasar berupa prakondisi itu, jika dirinci, tidak lain dari: (-) Kepribadian yang tangguh, tanggap dan tahan uji; (-) Etos kerja yang kuat, ulet, sabar, berdisiplin dan tahan banting; (-) Visi dan visionari yang jauh ke depan; (-) Hidup berperhitungan dengan missi yang jelas dan terjabarkan; (-) Berani menghadapi tantangan dan risiko yang bisa diperhitungkan; (-) Bekerja berjaringan dengan organisasi yang rapi dan selalu siap memperbaiki kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan; (-) Memanfaatkan sains dan teknologi secara optimal dan selalu gandrung dengan ilmu pengetahuan dan sesuatu yang baru; dan di atas semua itu, sebagai insan muslim: (-) Menserasikan antara tuntutan kebutuhan Emosi, Inteligensi dan Spiritual; (-) Selalu berserah diri kepada Allah, dengan selalu mengharapkan ma’unah dan ridha-Nya, dengan niat mengerjakan semuanya itu sebagai amal-ibadah dan panggilan hidup (calling, beruf), dan dengan selalu berpedoman kepada ajaran dan petunjuk-Nya.

Dengan semangat hidup yang seluruhnya islami ini secara tegar kita lalu merubah semua yang tidak berkenan dengan petunjuk-petunjuk itu yang selama ini menjadi bahagian dari pola budaya dan prilaku kita. Pembersihan, dan sekaligus revitalisasi dan pembaharuan kembali, sebagai konsekuensinya, harus dilakukan, terhadap diri, lingkungan keluarga, masyarakat berkampung, bernagari, berluhak, berdaerah, dan bernegara. Semua secara simultan dan bersinergi. Yang satu saling mendukung yang lainnya. Dan yang satu saling mengingatkan yang lainnya. Bukan sebaliknya.

III

Reformasi total dimaksud sudah barang tentu haruslah dengan mengindahkan serta melaksanakan segala nilai-nilai hakiki yang sifatnya universal dan datang dari atas melalui wahyu, yaitu Kitabullah Al Qur’an, dan melalui petunjuk pelaksanaannya, Al Hadits, dari Rasulullah saw. Kemudian juga melalui bimbingan dan arahan dari para ulama dan zuama serta cerdik-cendekia. Dengan demikian masyarakat itu tidaklah liar, mencari jalan sendiri-sendiri, tetapi hidup bersama secara kolektif berjamaah dan berimamah, berpemimpin. Pemimpin yang arif bijaksana, yang mendahulukan kepentingan bersama secara sentrifugal, bukan sentripetal. Artinya, diri untuk masyarakat, bukan masyarakat untuk diri. Diri yang terakhir, masyarakat yang utama.

Modernisasi tidak untuk dihindarkan tetapi untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin. Modernisasi adalah bagai pisau tajam, tergantung kepada bagaimana dan untuk apa kita pakai. Modernisasi tidak untuk melibas nilai-nilai hakiki yang berlaku secara universal. Modernisasi justeru memanfaatkan nilai-nilai hakiki itu untuk tujuan pencapaian sasaran yang optimal. Karenanya antara adat, Islam dan modernisasi tidak harus dipertentangkan, tetapi berjalan secara serasi, dan dukung-mendukung.

Pengertian-pengerti an dasar tentang adat, Islam dan modernisasi ini, oleh karena itu, harus masuk ke dalam pemahaman masyarakat, dan masuk ke dalam proses pembelajaran dan penghayatan melalui sekolah-sekolah dan institusi kemasyarakatan lainnya.

IV

Arahan dan guidelines serta gugahan semacam ini mungkin kita perlukan untuk sesegera mungkin kita keluar dari kegalauan setelah cukup lama berdiaspora setelah PRRI itu.

Adalah tugas dari ulama, zuama (formal: pejabat dan tradisional: ninik-mamak) dan cerdik-cendekia dalam kerangka kepemimpinan TTS (Tungku Nan Tigo Sajarangan) untuk merumuskan langkah-langkah ke depan yang tertuang ke dalam program dan arahan serta petunjuk pelaksanaannya. ***

__._,_.___







FORMAT PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

23 09 2008

(CLASSROOM ACTION RESEARCH)

A. JUDUL PENELITIAN

Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili gambaran tentang masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi

B. BIDANG ILMU

Tuliskan bidang ilmu (Jurusan) dari Ketua Peneliti.

C. PENDAHULUAN

Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Dalam pendahuluan kemukakan:

1. Latar belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi: (a) Uraian tentang kedudukan mata kuliah dalam kurikulum (semester, mata kuliah yang ditunjang dan mata kuliah penunjang); (b) Gambaran umum isi mata kuliah tersebut termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis Instruksional, SAP, GBPP dari mata kuliah yang bersangkutan) ; (c) Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.

2. Masalah yang dihadapi ditinjau dari hasil belajar yang dicapai mahasiswa

D. PERUMUSAN MASALAH

Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian tindakan kelas. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi di kelas, penting dan mendesak untuk dipecahkan. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah penelitiannya, selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab dari masalah tersebut.

E. CARA PEMECAHAN MASALAH

Uraikan pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai dengan kaidah penelitian tindakan kelas (yang meliputi: perencanaan- tindakan- observasi/ evaluasi- refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus). Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang dengan data yang lengkap dan baik.

F. TINJAUAN PUSTAKA

Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang diharapkan/diantisi pasi.

G. TUJUAN PENELITIAN

Kemukakan secara singkat tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga tampak keberhasilannya.

H. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN

Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga tampak manfaatnya bagi mahasiswa, dosen, maupun komponen pendidikan lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.

I. METODE PENELITIAN

Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, latar waktu dan lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan- tindakan- observasi/ evaluasi- refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklis. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah ke siklus lainnya. Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus.

J. JADWAL PENELITIAN

Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian dalam bentuk bar chart. Jadwal kegiatan penelitian disusun selama 10 bulan.

K. PERSONALIA PENELITIAN

Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang. Uraikan peran dan jumlah waktu yang digunakan dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat, jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan.

Lampiran-lampiran

1. Daftar Pustaka, yang dituliskan secara konsisten menurut model APA, MLA atau Turabian.

2. Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti (Cantumkan pengalaman penelitian yang relevan telah dihasilkan sampai saat ini )